KANALNEWS.Co., Tangerang – Pelatih renang asal Prancis, David Armandoni mengaku khawatir kasus di Pelatnas renang Olimpiade akan berdampak pada kondisi mental para atlet asuhannya.

Dari 6 atlet Pelatnas Olimpiade yang dipanggil PP PRSI, terdapat 3 atlet yang sebelumnya ditangani oleh David Armandoni yaitu Azzahra Permatahani, Fadlan Prawira dan Farrel Armandio Tangkas. Sebelum ke Stadion Akuatik GBK Senayan pekan lalu, mereka berlatih bersama Armandoni di WDS, Serpong, Tangerang.

“Saya memikirkan bagaimana motivasi para atlet tersebut apabila mereka dikecewakan. Sepanjang pengalaman menangani mereka, saya tahu para atlet muda ini merupakan atlet yang berdedikasi sebagai atlet dan sangat disiplin,” kata Armandoni, Senin (02/11/2020).

Armandoni sendiri mengaku memiliki pengalaman buruk usai menangani tim Pelatnas SEA Games 2019 lalu. Dikontrak selama setahun antara September 2019 hingga AGustus 2020, ia mengaku hanya menerima gaji secara lancar hingga Desember 2019 usai SEA Games.

Setelah itu ia tidak lagi menerima gaji mulai Januari. Kondisi menjadi serba tdiak jelas bagi pelatih yang sempat bermukim di Bali bersama keluarganya ini. “Saya baru menerima penjelasan resmi dari federasi pada Juni 2020. Dijelaskan bahwa saya menghadapi situasi force majeur karena epidemi Covid-19,” katanya.

Konsekuensi keputusan ini, Armandoni hanya mendapatkan sisa gajinya selama dua bulan, yaitu untuk Januari dan Februari yang dibayarkan pada September dan Oktober 2020. “Karena kondisi seperti ini saya menerima tawaran dan dari klub WDS untuk bertindak sebagai Direktur Teknik klub. Bukan selaku pelatih. Itu pun saya terima pada 1 September, setelah kontrak saya sebagai pelatih nasional officially berakhir pada 31 Agustus,” lanjut Armandoni.

Armandoni pun mengaku tidak peduli apabila tidak dimasukkan secara resmi sebagai bagian dari tim pelatih Pelatnas Olimpiade 2021. “Saya tidak peduli apabila memang ada pelatih yang ingin berangkat sebagai pelatih tim Olimpiade. Saya juga tidak peduli apakah saya diberi gaji atau tidak. Hanya saya minta dihargai karena saya juga punya tanggungjawab pada klub baru saya, sehingga saya kira tidak berlebihan apabila saya minta diberikan uang transportasi untuk ke GBK. Ini kan membantu mobilitas saya,” lanjut Armandoni.

Ayah atlet Azzahra Permatahani, Hanif Rusjdi mengaku telah mendapat balasan atas suratnya yang ditujukan kepada Ketua Umum PP PRSI, Anindya Bakrie. “Saya mendapatkan balasan surat dari Pak Ali Patiwiri selaku Sekjen. Intinya PP PRSI tetap meminta Azzahra bergabung dengan tim Pelatnas di GBK, Apalagi ia merupakan satu-satunya atlet puteri yang waktunya telah lolos limit Olimpiade,” kata Hanif.

PP PRSI pun mempersilakan Azzahra untuk tetap berlatih di bawah pengawasan David Armandoni. “Hanya kesepakatan untuk bisa berlatih di luar area GBK belum dapat dipenuhi,” kata Hanif. “Tidak masalah hanya kami minta agar dipertimbangkan juga sekadar transportasi buat David (Armandoni).”

Hanif pun mengakui kondisi terkatung-katung ini berpengaruh pada anaknya. “Bagaimana pun, Azzahra berpeluang untuk turun dalam tiga event besar tahun ini yaitu Olimpiade pada Juli, Pekan Olahraga Nasional pada Oktober serta SEA Games pada Desember. Jadi persiapannya pun harus jauh-jauh hari,” lanjut Hanif.

Hanif yang juga pembina pada olahraga tenis meja di DKI dan naisonal ini mengaku banyak pihak yang mendukung keberadaan puterinya untuk lolos ke Olimpiade berdasar wild card FINA. “Setahu saya belum ada yang bersedia menggantikan posisi Azzahra dalam tim Pelatnas ini, karena memang yang sudah lolos hanya dia,” ungkapnya.

Ia juga berharap adanya dukungan dari komunitas olehraga Riau yang akan dibela Azzahra pada PON 2021 di Papua. “Setidaknya ada penjelasan soal status David (Armandoni) yang tidak lagi menjadi pelatih namun hanya sebagai konsultan. Sehingga tidak ada isu status ganda pada dirinya.”

Sejauh ini pihak Pengprov PRSI Riau yang dihubungi via Whatsapp belum memberikan penjelasan soal situasi yang dihadapi atlet mereka. (Tjahjo)