Pentingnya Kajian Budaya dan Sosiologi dalam Pendidikan Olahraga

By on December 28, 2018
ngatawi2

KANALNEWS.co, Jakarta – Olahraga sangat terkait dengan aspek sosial budaya, karena olahraga merupakan produk kebudayaan yang memiliki dimensi sosial cukup tinggi. Hal ini terlihat dari fungsi dan peran olahraga yang sangat besar dalam konstruksi sosial masyarakat, baik sebagai sarana interaksi dan komunikasi antar individu maupun kelompok.

Dr. Ngatawi Al-Zastrouw, Dosen Pasca Sarjana UNUSIA Jakarta, Penggiat Seni Tradisi dan Budaya Nusantara, menjelaskan hal itu dalam presentasinya berjudul Urgensi Aspek Sosial Budaya Dalam Olah Raga yang disampaikan pada Seminar dan Lokakarya (Semiloka) Rancang Bangun Pendidikan Olahraga, di Hotel Bellezza, Jakarta, Jumat (28/12/2018).

“Atasa dasar ini, maka pembahasan mengenai olahraga semestinya tidak bisa dipisahkan dari aspek sosial budaya, terutama yang terkait dengan upaya membuat rancang bangun Kelembagaan Pendidikan Olah Raga,” kata  Ngatawi Al-Zastrouw.

Menurtnya, dari berbagai definisi intinya kebudayaan merupakan hasil kreatifitas manusia ketika berinteraksi dengan sesama dan lingkungan yang mengandung dimensi etika, estetika dan logika sebagai upaya mempertahankan kehidupan.

“Olahraga adalah bagian dari kebudayaan karena bagian dari produk keratifitas manusia yang mengandung dimensi etik, estetik dan logic,” ujar Ngatawi.

Ditambahkannya, olahraga sebagai sistem sosial terlihat pada keteribatan lebih dari satu orang atau kelompok yang memunculkan berbagai pranata sosial yang berfungsi mengendalikan konflik dan membangun integrasi sosial.

Sebagai suatu sistem sosial, katanya, olahraga mempunyai hubungan yang erat dan saling berkaitan dengan pranata-pranata sosial dan budaya yang ada di dalam masyarakat (Loy JW, 1987).

“Umpamanya dengan pranata-pranata ekonomi, politik, pendidikan, agama, dan media massa komunikasi. Sebagai suatu bagian yang integral dari masyarakat olahraga dapat dilihat sebagai suatu refleksi atau pencerminan dari pola kebudayaan masyarakat yang bersangkutan,” tandas Ngatawi.

Mengacu pada transformasi sosialolahraga, ini bermula dari olahraga lama (Konvensional) kemudian tertransformasi menjadi olahraga baru (modern).

Menurut Ngatawi, olahraga konvensional yaitu suatu kegiatan olahraga yang dilakukan atas pilihan sendiri, dimaksudkan untuk menguatkan diri baik phisik maupun psychis tanpa mengharapkan suatu hasil materiil tetapi mengharapkan kenaikan prestasi.

“Menurut Edward (1973) jenis ini disebut olahraga bermain dengan karakteristik antara lain; (a) Terpisah dari rutinitas, (b) Bebas, (c) Tidak produktif, (d) Menggunakan peraturan yang tidak baku,” tandas Ngatawi.

Sementara, olahraga modern yaitu olehraga untuk membentuk manusia yang tidak sekedar kuat-sehat secara fisik dan psikis tetapi juga berprestasi tinggi, memiliki mental dan ketrampilan kerja yang prefesional, kreatif dan sejahtera.

“Olahraga modern juga dimaksudkan  untuk mempertahankan existensi kemanusiaan dan untuk melakukan cita-cita hidup bangsa. Dalam konteks ini olah raga telah menjadi simbol eksistensi bangsa yang terkait dengan masalah politik dan ekonomi,” jelas Ngatawi.

Dalam konteks Indonesia, kata Ngatawi, dunia olah raga masyarakat Indonesia masih berada dalam kondisi transisi paradigmatik antara paradigma lama dengan yang baru.

Hal ini, menurutnya,  menimbulkankan kegamangan sikap yang justru bisa mengambat terjadinya proses industrilisasi dan tehnologisasi olahraga secara profesional. Ini bisa dilihat dari nilai kontrak pemain dan hasil penjualan berbagai atribut olahraga yang masih jauh jika dibanding dengan yang terjadi di negara maju.

“Pemain sepak bola Nasional Evan Dhomas dibanderol Rp 2,7 miliar (sekitar US $ 193.000); Febri Hariyadi dengan nilai kontrak  Rp 2 miliar (sekitar  AS $ 143.000); Pemain Basket IBL,  Arki Wisnu AS $ 3.000 per bulan,” kata Ngatawi sambil menambahkan,”Untuk data penjualan machandise dan tiket pertandingan belum terpublish datanya.”

Mengingat olah raga tidak lagi menjadi sekedar permainan tetapi juga menjadi simbol politik dan eksistensi suatu bangsa yang memiliki keterkaitan erat dengan aspek ekonomi, industri dan tehnologi, maka perlu ada transformasi sosial budaya sebagai upaya mendorong percepatan pertumbuhan aspek ekonomi.

“Jika hal ini tidak dilakukan, maka pertumbuhan ketiga aspek tersebut akan terhambat oleh kondisi sosial budaya masyarakat. Di sinilah pentingnya dilakukan kajian budaya dan sosiologi dalam pendidikan olahraga,” tandas Ngatawi. (Mul)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>