Memaknai Keteladanan Rasulullah SAW dalam Kontek Maulid Nabi

By on December 1, 2017
Imam n12

KANALNEWS.co, Jakarta – Dua manfaat besar sekagigus didapat umat pada perayaan peringatan maulid Nabi, pertama ilmu yang bermanfaat dan kedua syafa’at Nabi. Ilmu  yang berfaat akan diperoleh dari  keteladanan Nabi SAW sepanjang sejarah kehidupan beliau dalam mendakwahkan Islam, sedangkan syafa’at Nabi berdasrkan Hadist sahih diberikan diakhirat nanti.

Demikian diutarakan Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr, Nasaruddin Umar , MA dalam ceramahnya pada acara peringatan maulid Nabi Muhammad SAW 12 Rabi’ul Awal 1439 H yang diselenggarakan Keluarga Besar Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), di Jakarta, Kamis (30/11/2017).

Acara Maulid Nabi SAW  ini dihadiri oleh Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi, dan jajaran Eselon I dan II  serta segenap karyawan/karyawati dan para undangan lainnya.

“Barang siapa merayakan, menyelnggarakan dan atau menghadiri maulid Nabi, maka dua manfaat besar sekaligus yang akan didapatnya. Pertama, ilmu agama yang bermanfaat dan kedua adalah syafa’at Nabi,” kata Nasaruddin Umar.

Hal senada disampaikan Menpora Imam Nahrawi. Menurutnya, bagi umat yang selalu mengingat dan menganang Rasulullah SAW dalam kontek merayakan maulid Nabi, misalnya, niscaya dia akan mendapat syafa’at dari Rasulullah SAW.

Oleh karena itu, Menpora mengajak seluruh umat, khususnya aparatur Kemenpora pada perayaan maulid Nabi yang ke tiga kali  periode Imam Nahrawi, ini banyak-banyaklah bershalawat kepada Rasulullah SAW, insya Allah umat akan mendapat syafa’at  Nabi SAW.

“Saudaraku, teman-temanku semuanya …mari kita jadikan momentum perayaan maulid Nabi ini sebagai wadah untuk mendorong kita selalu ingat Rasulullah, bannyak-banyaklah bershalawat…bukankah lafadz shalawat  itu sudah saya tuliskan di mimbar masjid kita agar ketika kita shalat di masjid, kita ingat bershalawat kepada Rasulullah,” kata Imam Nahrawi.

Imam Nahrawi berpesan agar tradisi merayakan maulid Nabi SAW ini terus dilaksanakan oleh Keluaraga Besar Kemenpora, meskipun nanti Menpora tidak lagi dijabat oleh dirinya. “Dalam kesesmpatan ini saya berpesan agar tradisi maulid Nabi SAW ini terus dilaksanakan kalaupun Menporanya bukan saya lagi,” kata Imam Nahrawi.

Menpora, Imam Nahrawi bercakap-cakap sama Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, sesaat sebelum acara dimulai.

Sementara, pada kesempatan kali ini, Nasaruddin Umar mengisahkan keteladanan Rasulullah SAW dalam memperlakukan tawanan perang, dimana dalam hal ini Perang Badar yang dimenangkan kaum muslimin, pada waktu itu. Menurutnya,  pada waktu itu, ada ketentuan bahwa setiap tawanan perang yang laki-lakinya harus dibunuh dan perempuannya dijadikan budak.

Namun, kata Nasaruddin Umar, tidak halnya dengan Nabi SAW. Rasulullah tidak mau mengikuti ketentuan tersebut, dan beliau (Nabi) perlakukan tawanan perang itu dengan seadil-adilnya, pertama dengan pertimbangan bahwa Nabi SAW, tak ingin ada pertumbahan darah, dan kedua beliau ingin memetik manfaat potensi sumber daya seperti keterampilan dan keahlian yang ada pada para tawanan perang tersebut.

Pertimbangan itulah, kata Nasaruddin Umar,  yang dijadikan Rasulullah SAW dalam memperlakukan tawanan perang. Oleh sebab itu, Nabi meminta para sahabat untuk mengkelompokan para tawanan perang tersebut berdasar jenis kelamin dan kelompok usia: laki-laki, perempuan, dan pemuda. “Dari tiga kelompok tawanan perang  itu maka diketahuilah bahwa tawanan perang yang, perempuannya  memiliki keteramplian tata-rias pengantin, kelompok laki-laki memiliki ahli bangunan dan kelompok pemudanya ahli bahasa,” kata Nasaruddin Umar.

Potensi sumber daya manusia yang ada pada tawanan perang itu diberdayakan oleh Rasulullah SAW  untuk dipetik manfaatnya. Yang ahli kecantikan, misalnya,  diberdayakan untuk mengembangkan keahliannya dan untuk ditularkan pada yang lain dan begitu pula seterusnya potensi-potensi yang lainnya. “Jadi, kalau kita telaah dari keteladanan Nabi, beliau jauh sebelumnya telah mengkalkulasi sumber daya manusia itu sesuai dengan keahlian dan keterampilannya. Ada yang relavant dengan Kemenpora bahwa Nabi, sangat responshif pada keberadaan pemuda pada waktu itu,” kata Nasaruddin Umar.

Nasaruddin Umar menambahkan, makna lain yang tak kalah penting untuk diteladani dari Rasulullah adalah bahwa beliau sesungguh tidak menghendaki adanya sengketa dan permusuhan antar makhluk sosial ciptaan Allah. Hal  itu, kata Nasaruddin, dapat dibuktikan dari cara Nabi memperlakukan tawanan perang (kaum kafir quraisy) yang nyata-nyata musuh Islam. “Tapi, Rasulullah tidak mau memperlihatkan kebencian apa lagi dengan cara membunuhnya,” kata Nasarudin Umar.

Mengakhiri ceramahnya, S-3 dari UIN Syarif Hidyatullah 2016, ini bertutur bahwa itulah pentingnya maulid Nabi utuk dirayakan dan dimaknai. “Jadi,  Maulid Nabi SAW menjadi hari libur nasional, ini penting untuk dimaknai. Dan, sekarang, tidak hanya di Indonesia, namun saya dengar bahwa Sudi Arabia telah menjadikan setiap, 12 Rabi’ul Awal hari libur nasional di Saudi Arabia, untuk mengenang kelahiran sekaligus wafatnya beliau. Karena, Rasulullah SAW, lahir pda Senin 12 Rabi’ul Awal dan wafatnya juga pada hari Senin 12 Rabi’ul Awal,” kata Nasaruddin Umar. (mulkani)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>