MOSKWA, Kompas.com – Juara dunia kelas ringan UFC, Khabib Nurmagomedov mengaku ia ingin meniru apa yang dilakukan Floyd Mayweather Jr dengan mencatat rekor 30 kali menang tanpa kalah sebelum mengundurkan diri.

Mayweather mengundurkan diri sebagai atlet tinju dengan rekor 50 kali tanpa kalah setelah mengalahkan Conor McGregor pada Agustus 2017 lalu. Hasil ini mengalahkan rekor sebelumnya yaitu 49-0 atas nama petinju kelas berat 1950-an, Rocky Marciano.

Nurmagomedov sendiri kini mencatat rekor bertarung 28-0. Ia yakin akan menang dalam dua pertarungan lagi sebelum mengudnurkan diri sebagai atlet MMA terbesar dalam sejarah.

Namun ia menyiratkan tidak tahu kapan ia akan memastikan diri mundur. “Sejujurnya, saya belum tahu,” kata Nurmagomedov. “Rekor 30-0 tentu sangat hebat terdengarnya. Ini akan seperti (rekor) Mayweather di MMA. Kita lihat saja. Ini kan sebentar lagi bisa saya raih.”

Petarung Rusia ini akan menghadapi Justin Gaethje pada UFC 254 pekan ini.

Nurmagomedov juga yakin pertarungannya dengan Conor McGregor akan fenomenal dan dikenang hingga 50 tahun mendatang, sebanding dengan “Thrilla in Manila” pertarungan tinju kelas berat Muhammad Ali dan Joe Frazier pada 1975.

“Saya akan menghabisi Justin Gaethje, kemudian satu orang lagi, maka nama saya akan menjadi sejarah,” kata Nurmagomedov. “Saat ini saya pikir nama saya sudah menjadi sejarah sejak pertarungan saya dengan McGregor dua tahun lalu.”

Jika Gaethje kalah, maka petarung yang pantas menjadi lawan terakhir Nurmagomedov adalah pertarung legendaris, Georges St-Pierre. Petarung asal Kanada ini sudah pensiun sejak Februari 2019, namun pelatihnya, Firas Zahabi menyebut pertarungan sangat mungkin terwujud.

“Jika Khabib menang dalam pertarungan menghadapi Gaethje, saya pikir pertarungan menghadapi Georges berpeluang terwujud. Namun jika kalah, Georges pasti tidak akan mau (kembali) bertarung.” (DM/Tjahjo)