• JAKARTA – Pasar ikan, Tempat Pelelangan Ikan Muara Angke (TPI Muara Angke) yang terletak di kawasan Muara Karang Jakarta Utara adalah pusat grosir penjualan ikan terbesar di Indonesia. Berbagai macam ikan baik dari hasil tangkapan nelayan di laut maupun hasil penangkaran yang berasal dari seluruh Nusantara tersedia di pasar ikan Muara Angke.

Pada masa awal Pandemi virus corona, pasar ikan Muara Angke terkena dampak akibat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di perketat. Pembatasan kegiatan dalam suatu wilayah yang diterapkan oleh Pemerintah Provinsi DKI untuk mencegah kemungkinan penyebaran penyakit atau kontaminasi itu membuat omset pedagang menurun.

“Ya, pada awalnya (PSBB diperketat) penjualan ikan menurun akibat pembeli kami yang berkurang,” ungkap Ketua Asosiasi Pedagang Ikan Muara Angke (APIMA) H. Dede Arifin kepada sejumlah wartawan di Kantor APIMA, Muara Angke, Jakarta, Rabu (11/11/2020) malam.

Namun hal itu tidak berlangsung lama pasalnya ikan dan hasil laut lainnya adalah salah satu kebutuhan pokok dan sumber gizi utama tubuh manusia. Bisnis ikan segar berangsur mulai normal kembali. Transaksi penjualan dan pembelian tidak terganggu dengan Covid-19.

“Setelah Gubernur Anis melonggarkan PSBB penjualan kami mulai stabil, banyak permintaan dari pasar tradisional di Jakarta dan dari berbagai daerah mulai dari Bekasi, Cikarang, Tangerang dan kota satelit Jakarta lain, pasokan ikan juga terus bertambah,” tambah Dede.

H. Dede Arifin menjelaskan APIMA merupakan asosiasi pedagang ikan di Muara Angke yang menaungi lebih dari 700 pedagang. “Anggota kami ada 700 orang, untuk sementara yang punya KTA (Kartu Tanda Anggota) jumlahnya sekitar 400-an,” ucapnya.

Keberadaan pedagang ikan di Muara Angke telah berlangsung sangat lama, dan secara alamiah tumbuh dalam masyarakat yang kemudiaan ditata oleh pemerintah, melalui berbagai kebijakan dan peraturan. Sebagai organisasi yang memadahi pedagang ikan, APIMA menjadi jembatan penghubung antara pedagang dengan para aparat keamanan dan para pengambil kebijakan di pesisir laut Jakarta itu.

“Tugas kami selaku pengurus organisasi adalah menyalurkan dan memperjuangkan aspirasi anggota, memberikan perlindungan hukum dan advokasi kepada anggota terhadap hak dan kewajibannya, keamanan dan kenyamanan tempat usaha, masalah-masalah hukum dan hal-hal lain,” ujar H. Dede.

Selama pandemi, H. Dede mengaku belum pernah mendengar ada pedagang ikan anggota APIMA yang terpapar Covid-19. Pihaknya bekerjasama dengan aparat terkait juga rutin melakukan sosialisasi tentang pentingnya mematuhi protokol kesehatan dan melakukan rapid test.

“Hingga sekarang saya belum pernah mendengar ada pedagang atau yang kerja di sini (pasar ikan Muara Angke) mulai dari kuli sampai pemilik lapak yang kena Covid-19,” tegasnya.

“Kami juga bersiaga di pintu masuk pasar. Kalau ada pedagang atau pembeli tidak memakai masker, maka dilarang masuk. Memang ada juga kuli angkut yang bandel. Alasannya sesak nafas. Kita ingatkan. Alhamdulillah. Mereka mau mengikuti anjuran kita,” jelasnya. (WAN)