KANALNEWS.CO., Jakarta – Dunia jurnalistik Indonesia kehilangan pengamat bahasa jurnalistik, Masmimar Mangiang yang meninggal dunia, Senin (29/06/2020) petang.

Masmimar Mangiang meninggal dunia dalam usia 70 tahun setelah selama beberapa bulan mengidap sakit kanker paru-paru. Sebelum pensiun, Masmimar aktif sebagai pengajar di Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia.

Di luar profesinya sebagai dosen di UI, Masmimar juga dikenal sebagai penggiat pengembangan bahasa jurnalistik Indonesia. Ia kerap diminta sebagai ahli bahasa jurnalistik untuk menangani bidang tersebut di media besar Indonesia. Kegiatan ini tetap dijalaninya setelah ia pensiun sebagai pengajar dan mereka yang mendalami hal ini bisa dihitung sebelah tangan.

Pengalaman yang luas sebagi praktisi media membuat metode mengajar Masmimar dianggap dapat memenuhi kebutuhan mahasiswa ilmu komunikasi yang berminat terjun ke dunia jurnalistik. Sebelum menjadi pengajar, Masmimar aktif di beberapa media seperti Tempo, Harian Kami, Pedoman, Fokus dan majalah Neraca. Ia kemudian aktif dalam pengembangan Jurnal Prisma dan menjadi pengajar di Lembaga Pers Dokter Soetomo (LPDS).

Pengalaman sebegai awak media membuat Masmimar yang dilahirkan 10 September 1949 ini memberi warna sendiri pada ilmu yang ditransernya kepada para mahasiswanya. Salah satunya adalah penegasan Masmimar agar mahasiswanya tidak menabukan rasa atau emosi saat menghasilkan satu karya tulis. Ia menceritakan bagaimana tidak bisa bersikap obyektif bila menuliskan sejarah militer. “Saya ini pernah mengalami pahitnya perang saat masa kecil di daerah saya berkecamuk perlawanan PRRI. Keluarga saya menjadi korban dan saya tahu siapa pelakunya. Ini selalu terbawa setiapkali menuliskan sejarah.”