Jakarta – Seluruh kader Partai Demokrat se- Indonesia dipastikan banyak mendapatkan pelajaran berharga dari Ketua BPOKK DPP Partai Demokrat 2016-2020, Bapak Jenderal Purnawirawan TNI Pramono Edhie Wibowo.

Hal ini di akui oleh Kepala Badan Pembinaan Jaringan Konstituen (BPJK) DPP Partai Demokrat, Zulfikar Hamonangan, dalam keterangan tertulis yang diterima wartawan, Minggu, (14/6/2020).

Zulfikar yang menjabat sebagai Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi Partai Demokrat ini, menilai banyak sekali tauladan yang diwariskan Pramono Edhie Wibowo, baik sebagai Kepala Sfaf TNI AD ke-27, Pimpinan Partai Demokrat maupun sisi pribadinya, kepada rakyat Indonesia, khususnya prajurit TNI dan kader Partai Demokrat.

Berikut pernyataan Anggota Komisi VII DPR RI dan juga Kepala Badan Pembinaan Jaringan Konstitien (BPJK) Partai Demokrat, Zulfikar Hamonangan.

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatu

Innalilahi Wainnailaihi Rojiun

Kita kembali kehilangan salah satu putera terbaik bangsa, Kepala Staf TNI AD ke-27, Ketua BPOKK DPP Partai Demokrat 2016-2020, Bapak Jenderal Purnawirawan TNI Pramono Edhie Wibowo.

Saya dan tentunya kita semua, khususnya keluarga besar Partai Demokrat, turut berbela sungkawa dan ikut merasakan duka cita yang mendalam atas kepergian beliau.

Kita mengenal sosok Jenderal Purnawirawan TNI AD Pramono Edhie Wibowo, yang memiliki karier militer cemerlang dan lengkap, karena pernah menduduki semua jabatan strategis di TNI AD.

Almarhum adalah guru sekaligus teladan bagi anak bangsa, khususnya para perajurit TNI, yang senantiasa teguh dan gigih menjadi garda terdepan penjaga kedaulatan bangsa dan negara.

Di Partai Demokrat, sosok keseharian Bapak Pramono Edhie Wibowo, banyak memberikan inspirasi bagi kami.

Tak sekadar mengajarkan, dalam kesehariannya beliau membuktikan bagaimana pentingnya integritas, kejujuran, ketekunan, keikhlasan dan doa serta berserah diri kepada Allah SWT untuk hasil apa pun, terhadap upaya baik yang kita lakukan untuk kepentingan rakyat, bangsa dan negara.

Selain cerita sukses di militer, ada satu kisah haru yang sangat mengispirasi saya dan tentunya kita semua, yaitu kisah semangat serta keikhlasan beliau mendonorkan sumsum tulang belakang untuk sang kakak tercinta, Ibu Ani Yudhoyono, yang menderita kanker darah.

Di usia yang tak lagi muda, kami melihat betapa semangatnya beliau mengikuti setiap tes fisik atau kesehatan di Jakarta maupun Singapura, agar lolos menjadi pendonor sumsum tulang belakang bagi Ibu Ani Yudhoyono.

Ini bukan hanya terlihat sebagai bentuk dan bukti nyata kasih sayang seorang adik kepada kakaknya, namun esensi kisah nyata pengorbanan Bapak Pramono Edhie Wibowo, telah memberikan teladan kepada kita semua khususnya bagi saya, bahwanya hidup bukanlah siapa yang terbaik, melainkan juga seberapa banyak kebaikan yang bisa kita lakukan dalam hidup yang singkat di dunia fana ini.

Beliau memberi contoh sekaligus bukti kepada kita semua, tentang hakekatnya sebuah keluarga dan saudara, dimana cinta dan kasih sayang terhadap sesama manusia yang sejatinya saling bersaudara, tidak lekang oleh zaman, apalagi pudar oleh waktu.

Sekali lagi, saya menyampaikan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya.

Selamat jalan Bapak Pramono Edhie Wibowo, semoga dosa, kesalahan dan khilaf almarhum selama didunia diampuni dan seluruh amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT, serta semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kekuatan iman lahir batin.

Amin Amin Ya Robbal’alamin.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh