Pertamina Masih Tunggu Surat Sanksi dari KLHK

By on April 17, 2018
to

KANALNEWS.co, Jakarta – PT Pertamina tinggal menunggu surat sanksi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terkait kerusakan lingkungan akibat tumpahan minyak di Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur, beberapa waktu lalu.

Namun, Direktur Pengelolahan Pertamina, Toharso, mengatakan, sampai saat ini Pertamina belum bisa menanggapi sanksi admistra‎si yang akan dijatuhkan KLHK, karena instansi tersebut belum menyampaikan surat sanksi kepada Pertamina.

“Pertamina belum menerima surat.Jadi, nanti surat dulu,” kata Toharso di Jakarta, Selasa (17/8/2018).

Toharso terkesan kurang setuju kalau Pertamina dituding  lamban dalam mencari sumber tumpahan minyak.‎ Menurut Toharso pencarian sumber tumpahan minyak dilakukan di bawah laut, sehingga prosesnya cukup sulit dan memakan waktu.

“Waktu… itu butuh waktu. Kan enggak semudah itu angkat pipanya juga. Butuh waktu,” kata Toharso.

Dijelaskannya, sumber tumpahan minyak berasal dari pipa pemasok minyak mentah dari Tanjung Penajam ke Kilang Balikpapan dengan ukuran 20‎ inch sepanjang 3,6 kilometer (km). Untuk menginspeksi pipa tersebut dilakukan dengan menyelam dan memakan waktu dua minggu.

Saat diketahui ada tumpahan minyak di Teluk Balikpapan, pada 31 Maret 2018, Pertamina langsung menurunkan penyelam untuk mencari sumber kebocoran dengan menyusuri pipa. Karena proses penyelaman terbatas waktu dan jarak pandang, maka baru diketahui sumber kebocoran tiga hari kemudian, yang terletak 600 meter dari kilang.

“Itu menyelam kenapa lama, penyelam tidak bisa satu jam di kedalaman 20 meter. Karena itu pipa putus kami tidak tahu, soal pipa putus kami ragu, pagi itu di selam. Setelah tiga hari baru ketemu ada foto, ada video,” papar Toharso.

Tohaso mengatakan, saat proses pencarian sumber kebocoran Pertamina sudah melakukan penghentian pasokan minyak mentah ke Kilang Balikpapan. Dia mengakui, masih ada kelemahan dalam mendeteksi kebocoran pada pipa, karena prosesnya masih manual.

“Apakah minyak mentah ini ngocor terus, tidak, kita mengoperasikan satu pompa. Jadi, tidak ada kesengajaan kita membiarkan itu terus mengalir. Ada proteksi pipa, memang seharunya diproteksi sistem digital, karena pipa dibuat periode 1997 ini memang kerjanya masih manual oleh operator, jadi pakai telepon secara estafet komunikasi, itu baru dihentikan,” pungkasnya.(mul)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>