BI Terapkan Kebijakan Menahan Suku Bunga Acuan Besifat Akomodatif

By on June 20, 2019
prescon Bank Indonesia

KANALNEWS.co, Jakarta – Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) tanggal 19-20 Juni 2019, Bank Indonesia (BI), memutuskan untuk menahan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate. Dengan demikian, suku bunga acuan BI tetap berada di level 6 persen.

Ekonom The indonesian Institute, Muhamad Rifki Fadilah, menilai Kebijakan BI untuk menahan suku bunga ini bersifat akomodatif, responsif serta mengekedepankan prinsip kehati-hatian.

Menurutnya, langkah BI ini tepat meskipun saat ini ada beberapa indikator ekonomi yang menunjukkan penguatan ekonomi Indonesia dan berpeluang untuk menurunkan suku bunga seperti tren inflasi yang terkendali dan cerderug melandai, nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika (USD) yang secara umum menguat, nilai IHSG juga terus menguat tajam.

Namun demikian, Muhamad Rifki Fadilah mengingatkan bahwa Indonesia belum sepenuhnya aman untuk menurunkan suku bunga mengingat masih adanya eskalasi ketegangan perdagangan antara negara-negara di dunia kian meningkat khsusnya kemungkinan memanasnya perang dagang  Amerika Serikat (AS) vs China dan berpengaruh dalam menurunkan volume perdagangan dunia.

Oleh karen itu, Muhamad Rifki Fadilah menekankan BI tetap harus memerhatikan satu indikator yang cukup penting sebelum merubah stance kebijakannya, yaitu defisit neraca transaksi atau Current Account Deficit (CAD).

Dijelaskannya bahwa per definisi, neraca transaksi berjalan adalah neraca yang menggambarkan devisa yang masuk dan keluar dari ekspor-impor barang dan jasa. Transaksi berjalan sendiri, merupakan salah satu fondasi penting bagi stabilitas nilai tukar.

Saat ini, kata dia, defisit CAD Indonesia masih melebar. Data terbaru BI menunjukkan defisit CAD tercatat sebesar 7 miliar dollar AS pada triwulan I-2019 atau sebesar 2,6 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Defisit itu meningkat dibandingkan periode sama 2018 sebesar 5,5 miliar dollar. Meskipun demikian, capaian tersebut di bawah catatan CAD pada triwulan IV-2018 sebesar 9,2 miliar dollar AS atau sebesar 3,6 persen dari PDB.

Apabila, defisit transaksi berjalan tak dapat diimbangi dengan pasokan devisa dari portofolio keuangan seperti hot money, maka neraca pembayaran Indonesia (NPI) pun bukan tidak mungkin bakal terjun bebas.  Hal itu menandakan keseimbangan eksternal jomplang karena devisa yang keluar lebih banyak dibandingkan yang masuk. Kondisi ini tentu juga tidak baik bagi perekonomian domestik.

Rifki berpendapat bahwa inilah yang memberatkan BI untuk mengerek turun suku bunganya. Memangkas suku bunga tidaklah semudah membalikkan tangan. BI yang memegang dua mandat untuk menjaga stabilitas dan juga pro terhadap pertumbuhan harus mampu bersikap responsif dan akomodatif serta berhati-hati dengan adanya risiko terhadap pelemahan kurs Rupiah.

Disarankannya, BI harus memastikan semua indikator dan dasar pijakan untu menurunkan suku bunga sudah. BI tentu saja harus berpikir jauh lebih panjang mengenai dampak dan efek yang akan didapat dari setiap kebijakan yang dibuat. BI juga harus lebih berhati-hati dalam mengambil keputusannya. Alih-alih menurunkan suku bunga guna mendongkrak pertumbuhan ekonomi, nyatanya dalam jangka panjang kebijakan yang diambilnya hanya bersifat populis semata dan malah memperkeruh perekonomian domestik.

Meski BI menahan suku bunga acuannya, bukan berarti BI menganak tirikan sektor rill. Saat ini terkait stimulus moneter bagi perekonomian, Rifki menilai BI tidak harus mengambil kebijakan menurunkan suku bunga acuannya. Menurutnya, saat ini, BI juga sudah melakukan suntikan likuiditas cukup besar melalui operasi moneter terbuka. melalui penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) sebesar 50 basis poin (bps). Kebijakan ini diperkirakan mampu menyuntikkan likuiditas sebesar Rp 25 triliun.

Sebagai informasi bahwa ini merupakan bulan ke enam Bank Sentral menahan suku bunga acuannya di tahun 2019. Adapun suku bunga Deposit Facility (DF) tetap di level 5,25% dan Lending Facility (LF) pada level 6,75%. (Mul)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>